x
NASIONAL

Pisau Bermata Dua dari Kebijakan Impor Pangan

Lonjakan impor bahan pangan menyebabkan neraca dagang April lalu mengalami defisit yang terbesar selama pemerintahan Jokowi. Ini dapat memicu efek lanjutan pelemahan rupiah dan pertumbuhan ekonomi.

beras impor

Aktivitas bongkar muat beras impor asal Vietnam di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, 23 Februari 2018. | Budi Candra Setya | ANTARAFOTO

Upaya pemerintah menekan inflasi dengan cara mengimpor bahan pangan, ternyata turut berdampak negatif bagi perekonomian. Neraca perdagangan pada April 2018 mengalami defisit yang besar akibat lonjakan nilai impor, termasuk impor barang konsumsi dan bahan pangan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, dampak lanjutannya bisa semakin melemahkan kurs rupiah dan mengerem pertumbuhan ekonomi.

Pada Selasa (15/5), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca dagang Indonesia pada April lalu kembali mengalami defisit. Nilainya mencapai US$ 1,63 miliar.  Ini nilai defisit tertinggi sejak Mei 2014 atau selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Padahal, pada Maret lalu, neraca dagang sempat membukukan surplus US$ 1,09 miliar setelah dua bulan pertama tahun ini selalu mengalami defisit.

Ingin membaca artikel selengkapnya?

Free Trial Subscribe

Log In

Or
Forgot Password
Do not have an account yet? Sign Up

Enter your e-mail address and we will send a link to reset your password

Back to Login
Do not have an account yet? Sign Up
Close